Tiga Pilar Strategi Penguatan Perbatasan Indonesia di Forum DGICM 2026(k/ft)
Siem Reap, Kamboja,Kepriekspres.com – Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, memaparkan tiga pilar strategi nasional dalam penguatan perbatasan keimigrasian Indonesia pada forum DGICM 2026 yang berlangsung di Siem Reap, Kamboja, pada 23–25 Juni 2026.
Dalam forum yang diikuti para pimpinan otoritas keimigrasian negara-negara ASEAN tersebut, Hendarsam menegaskan bahwa penguatan sistem keimigrasian Indonesia berfokus pada tiga pilar utama, yakni penguatan pemeriksaan di perbatasan, peningkatan pengawasan terhadap warga negara asing (WNA), serta integrasi layanan keimigrasian berbasis digital.
Menurutnya, strategi tersebut merupakan bagian dari komitmen Direktorat Jenderal Imigrasi dalam membangun sistem keimigrasian yang adaptif terhadap tantangan global, modern, serta terintegrasi untuk mendukung keamanan negara sekaligus memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada masyarakat.
Dalam implementasinya, Ditjen Imigrasi telah mengoptimalkan berbagai inovasi teknologi, di antaranya Passengers Analysis Unit, Immigration Traffic Monitoring Center, serta aplikasi APOA yang telah terintegrasi dengan Polri untuk memperkuat pengawasan terhadap keberadaan dan aktivitas warga negara asing di Indonesia.
Selain itu, pengembangan platform All Indonesia serta penerapan teknologi Corridor Gate pada skema Makkah Route juga menjadi bagian dari transformasi digital yang terus dikembangkan guna mempercepat layanan keimigrasian sekaligus meningkatkan efektivitas pengawasan di pintu masuk dan keluar wilayah Indonesia.
Di tingkat regional, Indonesia juga mendapat kepercayaan sebagai Voluntary Lead Shepherd untuk isu People Smuggling di kawasan ASEAN. Amanah tersebut menunjukkan peran aktif Indonesia dalam memperkuat kerja sama antarnegara ASEAN untuk menghadapi berbagai bentuk kejahatan lintas negara, khususnya penyelundupan manusia.
Melalui berbagai langkah tersebut, Direktorat Jenderal Imigrasi menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan layanan keimigrasian yang inovatif, berbasis teknologi, serta mendukung keamanan perbatasan nasional di tengah dinamika mobilitas masyarakat global.
(Red/suhaimi)
