Ronny Kambey Wafat,(k/ft)
Natuna,Kepriekspres.com – Kabar duka menyelimuti Kabupaten Natuna. Tokoh masyarakat Penagi sekaligus Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Masyarakat Miskin (Formis) Kabupaten Natuna, Ronny Kambey, meninggal dunia pada Kamis (23/7/2026) pukul 17.41 WIB di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Natuna setelah menjalani perawatan intensif. Almarhum wafat pada usia 75 tahun.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah putranya, Ayanny Perkasa (Aya), di Jalan Ranai Darat, sebelum dimakamkan sesuai keputusan keluarga.
Kepergian Ronny Kambey menyisakan duka mendalam bagi berbagai kalangan. Bagi Pemimpin Redaksi koranperbatasan.com, Amran, almarhum bukan sekadar narasumber yang selama ini aktif mengkritisi berbagai persoalan daerah, melainkan sosok guru yang membentuk cara pandangnya tentang arti jurnalisme yang berpihak kepada rakyat.
“Beliau bukan hanya narasumber bagi saya. Banyak pelajaran hidup dan pelajaran jurnalistik yang saya dapatkan dari beliau. Beliau mengajarkan bahwa wartawan harus lebih mengutamakan keadilan dan keterbukaan informasi daripada kepentingan pribadi atau kelompok,” ujar Amran.
Selama bertahun-tahun, Ronny Kambey dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan kepentingan masyarakat Natuna. Hampir setiap persoalan yang berkaitan dengan pembangunan daerah, kebijakan pemerintah, hingga dugaan ketidakadilan hukum selalu mendapat perhatian dan kritik konstruktif darinya.
Menurut Amran, keberanian Ronny Kambey tidak pernah dilandasi kepentingan pribadi. Semua kritik yang disampaikan lahir dari kepeduliannya terhadap masa depan Natuna dan kesejahteraan masyarakat.
Amran mengaku banyak mengubah cara pandangnya terhadap profesi wartawan setelah mengenal almarhum. Salah satu pesan yang paling diingat adalah agar pers tidak menjadikan berita sebagai alat mencari keuntungan, melainkan sebagai sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Beliau sering mengatakan kepada saya, jangan jadikan berita sebagai alat mencari keuntungan. Jadikan berita sebagai alat perjuangan untuk membela kepentingan rakyat. Kalimat itu sampai hari ini masih saya pegang,” katanya.
Nasihat tersebut, menurut Amran, menjadi prinsip yang terus dipegang dalam membangun media yang mengedepankan kepentingan publik.
Momen terakhir bersama Ronny Kambey pun masih membekas di ingatannya. Beberapa saat sebelum almarhum mengembuskan napas terakhir, Amran bersama rekannya, Hasongan Lubis, sempat menjenguk Ronny di ruang ICU RSUD Natuna.
Saat itu kondisi Ronny sudah terlihat sangat lemah. Meski demikian, Amran masih berharap tokoh yang akrab disapa Opa Borako itu dapat pulih.
Harapan tersebut pupus ketika sekitar 20 menit setelah mereka meninggalkan rumah sakit, kabar duka datang.
“Saya masih sulit mempercayainya. Baru sekitar dua puluh menit kami keluar dari ruang ICU, kabar beliau meninggal kami terima. Rasanya seperti kehilangan seorang guru,” ungkap Amran.
Bagi Amran, Ronny Kambey merupakan sosok yang hingga kini belum tergantikan. Ia menilai belum ada lagi tokoh yang memiliki keberanian, konsistensi, dan kepedulian sebesar almarhum dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.
“Sampai hari ini saya belum menemukan narasumber yang berani berbicara seperti beliau. Ketika melihat ada kebijakan yang merugikan rakyat, beliau tidak pernah diam. Beliau menyampaikan kritik dengan argumentasi yang kuat dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Sepanjang hidupnya, Ronny Kambey dikenal sebagai pejuang kepentingan masyarakat pesisir Natuna. Ia lantang mengkritisi berbagai kebijakan yang dinilai merugikan daerah, termasuk perubahan kewenangan pengelolaan wilayah laut melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menurutnya mempersempit ruang gerak daerah maritim seperti Natuna.
Ia juga kerap mengingatkan pentingnya fungsi pengawasan DPRD terhadap jalannya pemerintahan dan tidak segan menyampaikan kritik ketika menilai kepentingan masyarakat terabaikan.
Bagi banyak orang, Ronny Kambey adalah suara kritis yang konsisten memperjuangkan keadilan. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Natuna.
“Natuna kehilangan suara yang selama ini lantang memperjuangkan keadilan. Beliau tidak pernah takut berbicara ketika melihat rakyat diperlakukan tidak adil. Keberanian, kejujuran, dan kepeduliannya akan selalu menjadi inspirasi bagi saya dan siapa pun yang menjalankan profesi jurnalistik,” tutup Amran.
Kepergian Opa Borako memang meninggalkan duka yang mendalam. Namun nilai-nilai yang diwariskannya diyakini akan terus hidup sebagai inspirasi bagi para jurnalis dan pejuang keadilan yang menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.
(Red)
