Nelayan Desa Kelong Gelar Aksi Damai Tolak Aktivitas di Pulau Poto (k/ft)
BINTAN, Kepriekspres.com – Puluhan nelayan Desa Kelong, Kecamatan Bintan Pesisir, menggelar aksi damai di sekitar kawasan Pulau Poto, Selasa (21/4). Mereka menyuarakan penolakan tegas terhadap aktivitas yang dinilai berpotensi merusak lingkungan serta mengancam ruang hidup masyarakat pesisir.
Aksi berlangsung tertib dengan pembentangan sejumlah spanduk berisi tuntutan dan kritik. Massa menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi yang sah dan tidak bersifat anarkis.
Penanggung jawab aksi, Umar Husein, menyatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami pastikan aksi ini berjalan tertib, damai, dan tidak anarkis, serta tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan,” ujarnya di lokasi.
Sementara itu, Koordinator aksi, Mustafa Bisri Al’amin, menegaskan bahwa masyarakat nelayan memiliki hak konstitusional yang harus dihormati, mulai dari hak menyampaikan pendapat, hak atas lingkungan hidup yang sehat, hingga hak untuk mendapatkan informasi dan dilibatkan dalam setiap kebijakan yang berdampak pada wilayah mereka.
“Selama hak-hak tersebut belum terpenuhi, maka penolakan ini sah secara hukum,” tegas Mustafa.
Ia juga meluruskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan, namun menentang aktivitas yang berpotensi merugikan ekologi dan mengabaikan kepentingan warga lokal.
“Kami bukan anti-pembangunan. Tapi kami menolak jika pembangunan mengorbankan lingkungan, ruang hidup nelayan, dan partisipasi masyarakat,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola aktivitas di Pulau Poto maupun aparat desa setempat belum memberikan tanggapan resmi terkait aksi tersebut.
Aksi berlangsung tanpa insiden dan berakhir setelah para peserta menyampaikan aspirasi secara lisan kepada aparat keamanan yang berjaga di lokasi.
Sebagai informasi, Pulau Poto selama ini dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas ekonomi. Namun, nelayan Desa Kelong mengkhawatirkan dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan, seperti kerusakan terumbu karang, penurunan hasil tangkapan ikan, hingga hilangnya akses laut tradisional yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
(Tim/suhaimi)
