Warga Tanjungpinang Menjerit di Tengah Krisis Air(k/ft)
Tanjungpinang,Kepriekspres.com – Di saat gema takbir segera berkumandang, warga justru dihadapkan pada kenyataan pahit: krisis air bersih yang membuat Lebaran tahun ini terasa ganjil.
Bukan soal baju baru atau hidangan hari raya, melainkan kebutuhan paling mendasar—air untuk mandi dan bersuci—yang kini sulit didapat.
Keluhan ini mencuat setelah unggahan akun Biru Tea di grup Facebook InfoPinang viral dan menyentuh banyak pihak.
“Bisa jadi kami Lebaran berbaju baru, tapi tidak mandi,” tulisnya, Jumat (20/3/2026).
Kalimat sederhana itu menjadi simbol keresahan banyak warga. Di berbagai sudut kota, air bersih mendadak menjadi barang langka. Jasa antar air yang biasanya mudah dihubungi kini tak lagi merespons.
Telepon tak diangkat. Pesan tak dibalas. Kalaupun ada jawaban, isinya seragam: penuh, atau tidak lagi menerima pesanan.
Namun di balik itu, para penyedia jasa air juga berada dalam posisi sulit. Selain kelelahan setelah berbulan-bulan melayani di tengah musim kering, mereka kini menghadapi kenyataan pahit: sumber air mulai mengering.
Sejumlah penyedia bahkan mengaku sudah sepekan tidak bisa beroperasi karena sumur tempat pengambilan air tidak lagi mencukupi.
Kondisi ini diperparah oleh gangguan teknis pada sistem air baku milik Perumda Air Minum Tirta Kepri. Waduk Sei Gesek dilaporkan mengalami gangguan, menyebabkan pompa tidak dapat berfungsi normal.
Dampaknya, distribusi air terganggu di sejumlah wilayah, mulai dari Jalan Raya Tanjung Uban arah Gesek, Perumahan Air Raja dan Hang Tuah, Jalan D.I. Pandjaitan, Gatot Subroto, hingga kawasan Bintan Center dan sekitarnya.
Permohonan maaf dari pihak terkait memang telah disampaikan. Namun bagi warga, kondisi ini bukan sekadar gangguan—melainkan krisis nyata yang dirasakan langsung di rumah masing-masing.
Di tengah keterbatasan, warga mencoba bertahan dengan berbagai cara. Bahkan, muncul saran ekstrem: mandi menggunakan air galon.
“Daripada Lebaran tidak mandi sama sekali,” tulis seorang warganet.
Kini, harapan warga hanya satu: solusi cepat. Entah dari percepatan penanganan teknis, distribusi bantuan air bersih, atau turunnya hujan.
Sebab, tanpa air, makna kesucian di hari kemenangan terasa belum sepenuhnya hadir.
(Red/suhaimi)
