Warga Soroti Lampu Jalan dan Infrastruktur: “Artis Mampu Diundang, Jalan Rusak Tak Mampu Diperbaiki?”(k/ft)
TANJUNGPINANG,Kepriekspres.com – Rencana pelaksanaan Festival Kopi Merdeka 2026 di Kota Lama Tanjungpinang pada 20–23 Agustus mendatang mendapat perhatian masyarakat. Selain menyambut kehadiran sejumlah artis, publik juga mempertanyakan prioritas pemerintah di tengah berbagai persoalan infrastruktur yang masih menjadi sorotan.Sabtu 8/08/2026
Festival Kopi Merdeka 2026 diketahui akan menghadirkan sejumlah musisi, di antaranya Virgoun, Fauzana dan Aprilian. Selain hiburan musik, kegiatan tersebut juga diisi bazar kopi, UMKM, pertunjukan seni budaya, fashion carnival dan fashion show. Pemerintah menargetkan sekitar 4.200 kunjungan wisatawan selama pelaksanaan festival.
Namun, di tengah persiapan festival, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai kondisi sejumlah fasilitas publik, seperti lampu lalu lintas yang mengalami kerusakan, lampu penerangan jalan serta kondisi jalan yang dinilai masih membutuhkan perhatian.
“Kalau untuk mengundang artis bisa, kenapa lampu merah yang rusak, lampu jalan dan jalan yang rusak tidak segera diperbaiki?” demikian kritik yang disampaikan masyarakat kepada media.
Menurut warga, pemerintah seharusnya mampu menunjukkan keseimbangan antara kegiatan seremonial atau hiburan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat melihat pemerintah hanya mampu membuat acara dan mendatangkan artis, tetapi persoalan yang setiap hari dirasakan masyarakat justru belum selesai. Malu juga kalau banyak fasilitas publik yang rusak,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Isu Defisit Anggaran Ikut Dipertanyakan
Sorotan lain juga muncul terkait kemampuan keuangan daerah. Di tengah pembahasan mengenai keterbatasan atau defisit anggaran, masyarakat mempertanyakan bagaimana skala prioritas pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk kegiatan festival dibandingkan kebutuhan perbaikan infrastruktur.
Publik menilai transparansi mengenai sumber dan besaran anggaran Festival Kopi Merdeka penting disampaikan kepada masyarakat, sehingga tidak menimbulkan spekulasi.
Terlebih, Festival Kopi Merdeka merupakan agenda yang sudah memasuki penyelenggaraan kelima dan digelar melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang.
Muncul Dugaan Festival Bernuansa Politik?
Di tengah kritik tersebut, muncul pula pertanyaan di tengah masyarakat: apakah Festival Kopi Merdeka murni kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif, atau ada kepentingan politik tertentu di baliknya?
Bahkan, ada warga yang mempertanyakan apakah kegiatan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai panggung pencitraan politik menuju wacana tiga periode Gubernur Kepri.
Namun, hingga saat ini belum ditemukan bukti yang dapat membuktikan bahwa Festival Kopi Merdeka 2026 merupakan kegiatan kampanye atau dirancang untuk kepentingan politik tiga periode. Karena itu, tudingan tersebut perlu ditempatkan sebagai pertanyaan dan aspirasi masyarakat, bukan sebagai fakta.
Pemerintah Provinsi Kepri sendiri secara resmi memosisikan Festival Kopi Merdeka sebagai agenda pariwisata yang memadukan promosi kopi, UMKM, seni budaya dan hiburan.
Masyarakat pun berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kemeriahan panggung dan mendatangkan artis nasional, tetapi juga menunjukkan kinerja nyata dalam memperbaiki fasilitas umum yang menjadi kebutuhan sehari-hari.
“Jangan hanya mampu mendatangkan artis. Perbaiki dulu lampu merah, lampu jalan dan jalan yang rusak. Masyarakat juga butuh bukti kinerja pemerintah,” menjadi pesan yang kini ramai dipertanyakan publik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Provinsi Kepri terkait kritik mengenai prioritas perbaikan infrastruktur, sumber anggaran festival, maupun isu yang mengaitkan kegiatan tersebut dengan kepentingan politik.
(Suhaimi)
