Kisah Pengabdian yang Mengingatkan Peran Pers dan Kekuatan Solidaritas(k/ft)
Tanjungpinang – Kepriekspres.com.Di sebuah sudut sunyi Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, ada seorang polisi yang jarang terdengar suaranya saat bertugas. Ia tidak dikenal karena razia atau penindakan. Namanya justru kerap disebut lirih, dalam doa-doa keluarga yang sedang berduka.
Namanya Aipda Raja Faisal M, SH. Seorang anggota Polri yang memilih berjalan berdampingan dengan kematian—bukan untuk menakuti, melainkan mengantar dengan penuh hormat dan kasih.
Sejak tahun 2017, hampir setiap hari, Raja Faisal menjadi orang terakhir yang menemani warga Anambas menuju peristirahatan terakhir. Ia adalah sopir mobil jenazah. Sebuah tugas yang tidak tertulis dalam surat perintah, namun terpatri kuat dalam nuraninya.
Di wilayah kepulauan seperti Anambas, kematian tidak hanya meninggalkan duka. Ia sering kali datang bersamaan dengan persoalan lain: jarak tempuh yang jauh, keterbatasan sarana, dan biaya pemakaman yang tidak kecil bagi keluarga sederhana. Dalam situasi seperti itu, kehadiran satu orang yang mau membantu tanpa pamrih bisa menjadi penyangga di tengah runtuhnya dunia.
Awalnya, Raja Faisal hanya ingin membantu. Sopir mobil jenazah sebelumnya berhenti, sementara tidak ada pengganti. Banyak keluarga kebingungan, bahkan panik, saat anggota keluarga meninggal dunia dan tak tahu harus berbuat apa.
“Saat itu saya lihat sendiri, ada keluarga yang sudah berduka, tapi masih harus memikirkan kendaraan jenazah,” kenangnya pelan. “Saya tidak tega.”
Sejak saat itu, ia mulai rutin mengemudikan mobil jenazah. Panggilan duka datang siang dan malam, hujan atau panas. Lama-kelamaan, niatnya menguat.
“Awalnya hanya membantu karena tidak ada sopir,” ujarnya. “Lama-lamaan saya niatkan sebagai amal jariah.”
Di balik kemudi mobil jenazah, Raja Faisal memahami satu hal: ia sedang mengantar lebih dari sekadar tubuh yang tak bernyawa. Di belakangnya ada keluarga yang menahan tangis, mencoba ikhlas, sekaligus memikirkan biaya dan proses pemakaman yang tak sederhana.
Ia mengemudi dengan tenang. Tak pernah tergesa, tak pernah mengeluh. Seragam Polri yang dikenakannya tak membuatnya merasa lebih tinggi. Di hadapan kematian, ia hanyalah seorang manusia yang ingin berbuat baik.
Tak jarang, ia ikut membantu memandikan jenazah, mengangkat dan menurunkan peti, bahkan menunggu hingga liang lahat tertutup sempurna. Ia tidak pergi sebelum tugas kemanusiaan itu benar-benar selesai.
Ia juga tergabung dalam Tim Fardhu Kifayah Bhabul Akhirat, sebuah tim kecil berbasis relawan yang kerap hadir saat orang lain memilih menjauh. Kehadiran mereka bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga meringankan beban ekonomi keluarga yang sedang berduka.
Di sinilah, peran cerita-cerita kemanusiaan seperti ini menjadi penting. Bukan untuk memuja satu sosok, melainkan untuk mengingatkan publik bahwa solidaritas sosial adalah kekuatan nyata—dan pers memiliki peran strategis dalam menyampaikannya.
Beberapa jurnalis lokal di Anambas mulai menulis tentang kerja-kerja sunyi seperti yang dilakukan Raja Faisal. Bukan sensasi yang mereka kejar, melainkan nilai. Pemberitaan semacam itu perlahan membangun kesadaran kolektif, bahwa di tengah keterbatasan ekonomi daerah kepulauan, gotong royong dan kepedulian sosial menjadi modal yang tak ternilai.
Kapolsek Siantan, Iptu Dodi Setiawan, mengakui ketulusan anggotanya. Menurutnya, apa yang dilakukan Raja Faisal adalah wajah lain pelayanan publik yang jarang disorot.
“Ini bukti bahwa Polri hadir bukan hanya untuk menegakkan hukum, tapi mendampingi masyarakat hingga akhir kehidupan,” ujarnya.
Bagi pers, kisah seperti ini adalah pengingat akan fungsi dasarnya: menghadirkan cerita yang sehat, berimbang, dan memberi harapan. Di tengah derasnya informasi dan kepentingan ekonomi media, jurnalisme yang sehat justru lahir dari kepekaan terhadap realitas sosial di akar rumput.
Raja Faisal sendiri tidak pernah mencari sorotan. Ia tetap menjalani tugas sebagai polisi—patroli, pelayanan, pengamanan. Namun di sela semua itu, ia selalu siap jika kabar duka datang.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada hambatan,” katanya singkat. Padahal, tidak semua orang sanggup menatap kematian hampir setiap hari.
Di tengah dunia yang kerap sibuk dengan pencitraan, Raja Faisal memilih diam dan bekerja. Tanpa disadari, pengabdiannya telah menjadi bagian dari ekosistem sosial yang sehat—yang ketika diberitakan secara jujur oleh pers, mampu menumbuhkan empati dan memperkuat solidaritas masyarakat.
Pers yang sehat tidak hanya mengawasi kekuasaan, tetapi juga merawat nilai kemanusiaan. Dan dari nilai-nilai itulah, masyarakat yang kuat secara sosial dan ekonomi perlahan tumbuh.
Di Anambas, ada seorang polisi yang setiap hari mengantar orang pulang untuk selamanya. Dan lewat cerita tentangnya, kita diingatkan bahwa jurnalisme yang berpihak pada kemanusiaan adalah fondasi bagi masyarakat yang lebih berdaya.
(Red/Suhaimi)
